Banyak orang menyadari bahwa bulan Ramadhan terasa semakin maju setiap tahunnya. Jika beberapa tahun lalu Ramadhan masih jatuh di bulan Maret atau April, pada tahun 2026 diperkirakan akan dimulai sekitar akhir Februari. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh, melainkan proses alami akibat perbedaan sistem kalender.
Ramadhan mengikuti kalender Hijriah atau kalender Islam. Sistem ini berbeda dengan kalender Masehi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kalender Hijriah berbasis peredaran bulan (lunar). Dalam satu tahun terdapat 12 bulan dengan total sekitar 354 atau 355 hari. Artinya, satu tahun Hijriah lebih pendek sekitar 10–11 hari dibandingkan tahun Masehi.
Kalender Masehi berbasis peredaran matahari (solar) dengan total 365 hari dalam setahun, atau 366 hari pada tahun kabisat.
Karena tahun Hijriah lebih pendek, maka setiap tahunnya Ramadhan akan maju sekitar 10–11 hari lebih awal dibandingkan tahun sebelumnya dalam kalender Masehi.
Karena terus bergeser 10–11 hari setiap tahun, dalam siklus sekitar 33 tahun Ramadhan akan berputar melewati seluruh bulan dan musim dalam kalender Masehi.
Itulah sebabnya Ramadhan pernah jatuh di bulan Desember, pernah juga di bulan Juni, dan kini pada tahun 2026 berada di sekitar bulan Februari. Pergeseran ini adalah bagian dari sistem penanggalan Islam yang telah berlangsung sejak berabad-abad lalu.
Pergeseran ini memiliki hikmah tersendiri. Umat Muslim dapat merasakan puasa di berbagai musim, baik musim panas, hujan, maupun dingin. Dalam jangka panjang, hal ini menciptakan keseimbangan karena tidak selalu berada di musim tertentu.
Durasi puasa juga berbeda-beda di berbagai negara tergantung panjang siang hari, sehingga pengalaman berpuasa menjadi beragam di seluruh dunia.
Ramadhan 2026 jatuh di bulan Februari karena kalender Hijriah lebih pendek sekitar 10–11 hari dibandingkan kalender Masehi. Akibatnya, setiap tahun bulan puasa akan terus bergeser lebih awal. Ini adalah proses alami dan sudah menjadi bagian dari sistem kalender Islam.